Pengertian Iman ISlam Ihsan

Iman, islam, ihsan adalah tiga kata yang maknanya saling berkaitan, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Rasulullah Saw. “Diriwayatkan dari umar bin khatab, “Suatu hari, disaat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Saw.

Pengertian PLS

Menurut Philips H. Combs: bahwa pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan di luar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar.

PENGERTIAN ANTROPOLOGI

David Hunter Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia Koentjaraningrat Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisikmasyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan

Contoh Hasil Observasi

Dibawah ini adalah contoh hasil observasi.

Indahnya Cinta

Bahkan untuk memberitahu aku sangat menyukaimupun aku tak mampu, kau tau kenapa? Karena aku tidak yakin kau juga memiliki perasaan itu. Hanya mampu aku pendam, dalam diam tanpa ada yang tau selain aku

Tampilkan postingan dengan label PLS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PLS. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Januari 2015

pengertian PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH


 pendidikan luar sekolah UNIVERSITAS NEGRI SEMARANG





 Akreditas

Akreditas A (Amat Baik) berdasarkan SK. BAN-PT No.022/BAN-PT/Ak XI/S1/VI/2004.

Gelar Lulusan

Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Deskripsi

Program Studi (PS) Pendidikan Luar Sekolah (PLS) berada di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP)  dengan Nomor SK Pendirian 56/DIKTI /KEP .84 bertanggal 31 Juli 1984. Bidang keahlian lulusan prodi ini meliputi pemberdayaan masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, dan pengembangan/pengelolaan pendidikan anak usia dini (PAUD).

Keunggulan

Keunggulan prodi ini menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi dalam bidang pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.
Pendidikan Luar Sekolah juga memberikan nilai tambah bagi lulusan dengan mengembangkan kemampuan untuk berwirausaha.

Kompetensi Lulusan

Jurusan Pendidikan Luar Sekolah menghasilkan tenaga kependidikan akademik-profesional yang memiliki kemampuan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam pengelolaan lembaga dan program pendidikan, serta memberdayakan masyarakat di luar sistem pendidikan persekolahan, baik dalam kualitas maupun relevansinya dengan kebutuhan pembangunan. Adapun kompetensi yang dimilki Jurusan PLS adalah:
1. Pengelola Program pendidikan nonformal (PNF): merencanakan Program PNF, melaksanakan program PNF, mengevaluasi program PNF, menguasai substansi keilmuan yang terkait PNF, menguasai pengelolaan lembaga pendidikan dan pemberdayaan masyarakat
2. Pendidik PNF: memahami karakteristik dan kebutuhan warga belajar dalam menyelenggarakan program pembelajaran pada PNF, memahami model-model merancang pembelajaran PNF dan menerapkan strategi pembelajaran yang mendidik pada PNF
3. Pengembang PNF: menguasai penelitian dan pengembangan untuk mengkaji serta mengembangkan satuan program dan pembelajaran PNF.

Deskripsi Perkuliahan

Mata kuliah yang ditawarkan pada program studi ini antara lain Konsep Dasar PLS, Psikologi Umum, Sosiologi, Antropologi, Pendidikan Seumur Hidup, Teknologi Informatika, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pendidikan Orang Dewasa, Psikologi Belajar Orang Dewasa, Pendidikan Anak Usia Dini, Asesmen Kebutuhan Belajar, Sosiologi Pembangunan Pendidikan, Pendidikan Kehidupan Berkeluarga, Psikologi Sosial, Perubahan Sosial, Penyuluhan Pembangunan, Pendidikan Lingkungan Hidup, Ilmu Pendidikan, Manajemen Program Pendidikan Nonformal (PNF), Desain Pembelajaran PNF, Pengembangan Kurikulum PNF, Dinamika Kelompok,
Perkembangan Anak Usia Dini, Pekerjaan Sosial, Statistika, Bimbingan Konseling, Pendidikan Karakter, Pendidikan Multikultural,
Pemberdayaan Masyarakat, Monitoring dan Supervisi PNF, Strategi Pembelajaran PNF, Ekonomi Pendidikan, Komunikasi Sosial,
Psikologi Pendidikan, Manajemen Sekolah, Ekonomi Pembangunan, Pendidikan Kewirausahaan, dan Pengembangan Media PNF. Selain itu, Metode Penelitian,Metode Penelitian Kualitatif, Pelatihan, Kesehatan Masyarakat, Kepemimpinan, Perencanaan Program PNF,  Kesehatan Mental, Patologi Sosial, Statistik Inferensial,  Evaluasi Program PNF, Evaluasi Pembelajaran, Difusi Inovasi Pendidikan, Manajemen Pelatihan, Bimbingan Sosial,  Pembangunan Masyarakat, Analisis Kebijakan Pendidikan,  Teknik Penulisan Karya Ilmiah, Model-model Penyuluhan Masyarakat, Model-model Pelatihan, Pembelajaran Anak Usia Dini, Seminar PNF, Internship,
Praktik Pengalaman Lapangan, Kuliah Kerja Nyata, dan Skripsi.

Kata Alumni

“Dengan Ilmu PLS saya bisa mengembangkan diri untuk mengembangkan PAUD dan Alhamdulilah sekarang sedang lanjut S2 dengan biaya dari Dikti di Universitas Negeri Yogyakarta.” –HENDRA DEDI K, Angkatan 2003

psikologi umum

BAB II
MANUSIA DAN LINGKUNGANNYA

A.    Manusia dan Perkembangnnya
a.       Teori Nativisme : mengkaji factor keturunan, dan menganggap lingkungan tidak berpengaruh terhadap perkembangan individu. (Schopenhouer Bigot, dkk. 1950)
b.      Teori empirisme : pengalaman individu sangat mempengaruhi perkembangannya dan aspek keturunan tidak berperan dalam hal ini.(Jhon Locke)
c.       Teori Konveregensi : aspek keturunan dan pengalaman berperan penting dalam perkembangan seseorang. (William Stern)
B.     Faktor Endogen dan Faktor Eksogen
Faktor Endogen : bawaan sejak lahir
Factor eksogen : lingkungan
C.     Hubungan Individu dengan lingkungan
1.      Lingkungan fisik : berupa alam

2.      Lingkunagn social : masyarakat

psikologi umum

Bab I psikologi
Pengertian, Kedudukan Dan Metode-Metode Dalam Psikologi

A.    Pengertian Psikologi : psyche (jiwa) + logos (ilmu) = ilimu jiwa
Ilmu jiwa berbeda dengan psikologi. Ilmu jiwa menunjukkan kepada ilmu jiwa pada umumnya, sedangkan psikologi menunjukkan ilmu jiwa yang ilmiah menurut norma-norma ilmiah modern. Psikologi umum sendiri berarti ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia dewasa, normal dan beradab. Gejala jiwa bisa diidentifikasi melalui perilaku manusia.  Ada Overt behavior (perilaku yang menampak) dan adapula Innert behavior (perilaku yang tidak menampak)
B.      Perilaku Manusia
a.       Jenis Perilaku
·   Perilaku Refleksif : perilaku yang terjadi atas reaksi secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organism. Contoh : menjerit bila sakit, menggigil bila kedinginan.
·   Perilaku Non Refleksif : perilaku yang dikendalikan dan diatur oleh pusat kesadaran atau otak. Contoh : menulis, membaca.
b.      Pembentukan Perilaku
·   Pembentukan perilaku dengan kondisioning atau kebiasaan
·   Pembentukan perilaku dengan pengertian (insight)
·   Pembentukan perilaku dengan menggunkan model
c.       Teori Perilaku
1.      Teori Insting : merupakan perilaku bawaan dan insting bisa berubah karena pengalaman.
2.      Teori Dorongan : berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan organism yang mendorong organism berprilaku
3.      Teori Insentif (incentive theory) : perilaku yang disebabkan karena adanya insentif /reinforcement (hadiah/hukuman)
4.      Teori Atribusi : menyangkut lapangan psikologi social, perilaku disebabkan oleh disposisis internal (motif, sikap) atau disposisi external.
5.      Teori Kognitif : perilaku yang disebabkan atas adanya pemikiran dalam menentukan suatu pilihan.
d.      Letak Psikologidalam sistematika ilmu
Bapak Psikologi Experimental Willhem Wundt (1832-1920) mendirikan laboratorium Psikologi pertama pada tahun 1879 di Leipzig untuk meneliti peristiwa-peristiwa kejiwaan secara experimental.
e.       Hubungan Psikologi dengan ilmu lain
·      Psikologi – Biologi : sama-sama membicarakan manusia. Biologi membicaran manusia secara unsure bioligis sedang psikolgi perilaku manusia sebagai gejala kejiwaan. Contoh : mengenai keturunan, biologi mempelajari kehidupan turun temurun (gen) psikologi persifatan, intelegensi, dan bakat.
·      Psikologi-Sosiologi : sama-sama membicarakan manusia, manusia sebagai objek kajian ilmu. Sosiologi mempelajari manusia dalam hidup bermasyarakat. Psikologi mempelajari perilaku manusia di dalam aktifitasnya hidup bermasyarakat.
·      Psikologi-Filsafat : sama-sama manusia sebagai objek. Filsafat mengkaji tentang hakekat kodrat manusia, tujuan hidup, dsbg. Psikologi adalah ilmu percabangan dari filsafat.
·      Psikologi-Pengetahuan Alam : Pesikologi dalam kajiannya untuk mengembangkan dan memjaukan Psikologi mengikuti metode dan cara kerja Ilmu Pengetahuan Alam. Ilmu pengetahuan berobjekkan benda mati dan Psikologi berobjekkan benda hidup yaitu manusia.
f.       Psikologi Filosofis dan Psikologi Empiris
Mulanya karena Psikologi merupakan ilmu percabangan dari Filsafat yang dalam kajiannya menggunkan metode perenungan dan bersifat spekulatif. Selanjutnya setelah Psikologi menjadi ilmu yang mandiri metode yang diterapkan berdasarkan pada pengalaman atau empiri sehingga lebih bersifat objektif dan positif.
g.      Ruang Lingkup Psikologi
1.      Psikologi Umum : ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia dewasa, normal dan beradab.
2.      Psikologi khusus : a. Ps. Perkembangan, b. Ps Sosial, c. Ps. Pendidikan, d. Ps.Kepribadian, e. Psikopatologi, f. Ps. Kriminal, f. Ps. Perusahaan.
h.      Metode penelitian dalam psikologi
a.       Metode longitudinal

·         Butuh waktu lama
·         Dikaji secara mendalam
·         Subjek pengkajian sedikit
·         Contoh : penelitian tentang
kurma tanpa biji

b.      Metode cross-sectional

·         Butuh waktu singkat
·         Pengkajian kurang mendalam
·         Subjek pengkajian banyak
·         Contoh : pemilihan tentang Joko Wi


c.       Metode experimental : sengaja menimbulkan keadaan yang ingin teteliti.
Contoh : penelitian tentang sikap anak ketika berhadapan dengan ular didalam kelas. Digunakan untuk mengetahui efek, variable yang digunakan adalah variable bebas (independent variabel) dan variable tergantung (dependent variable).
d.      Metode non-experimental : meninggu dan mencari sampai dijumpai keadaan yang diinginkan yang dicari adalah situasi yang wajar.
Contoh : menunggu anak berhadapan denganular dalam situasi yang wajar.
e.       Metode instropeksi : digunakan dengan cara melihat peristiwa-peristiwa kejiwaan ke dalam dirinya sendiri. Kelemahannya , metode ini bersifat subjektif.
f.       Metode instropeksi experimental :  digunakan dengan cara melihat peristiwa-peristiwa kejiwaan ke dalam dirinya sendiri. Subjek yang dikenai lebih banyak untuk itu metode ini bersifat objektif.
g.      Metode ekstropeksi : subjek penelitian bukan dirinya sendiri tapi orang lain, mengatakan atau meyimpulkan yang terjadi pada orang lain dengan perbandingan keadaan diri sendiri. Contoh : menyimpulkan putus cinta tidak sakit karena tidak pernah putus cinta.
h.      Metode kuesioner : menggunakan daftar pertanyaan atau pernyataan.
Macam kuesioner berdasarkan cara menjawab. a. pertanyaan tertutup →tinggal memilih jawaban, contoh : Satus pendidikan terakhir. b. pertanyaan terbuka→memberikan jawaban secara luas, contoh : jumlah penghasilan, pendapat tentang TKI. c. pertanyaan terbuka dan tertutup, contoh : setujukah anda BBM naik ? mengapa ? dilihat dari cara memberikan informasi. a. Angket langsung, b. angket tidak langsung. Kelebihan: praktis, bisa jarak jauh, waktunya singkat, dan leluasa menjawab. kekuranan : tidak face to face, pertnyaan sulit diubah agar sesuai dengan situasi,  tidak semua angket bisa kembali, pelaksaan sering salah.
i.        Metode biografi : riwayat hidup. Kelemahan : bersifat subjektif.
j.        Metode analisis karya : menganalisis karya
k.      Metode klinis : mempelajari keadaan orang yang jiwanya terganggu. Contoh : merubah sifat pemalu siswa di dalam kelas.
l.        Metode testing : menggunakan soal dan tugas yang sudah distandarisasikan. Contoh : tes semester gasal.
m.    Metode statistic : penganalisisan data yang dikumpulkan dalam penelitian.

Senin, 29 Desember 2014

konsep dasar pls

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH















Pendidikan luar sekolah sebenarnya sudah ada sebelum pendidikan formal
lahir. Pendidikan luar sekolah (PLS) sesungguhnya bukan merupakan hal yang baru
dalam kehidupan manusia (Faure, 1981: 2). Pendidikan luar sekolah berjalan sesuai
dengan peradaban manusia yang diwujudkan melalui berbagai kegiatan manusia
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam pelaksanaan, masyarakat
melakukannya melalui upacara-upacara tradisional, keagamaan, kebudayaan, dan
kegiatan belajar membelajarkan dalam bentuk magang oleh orang tua kepada anaknya
atau orang yang sudah tahu kepada orang yang ingin tahu secara tradisional.
Pendapat para pakar pendidikan luar sekolah mengenai definisi PLS cukup
bervariasi. Philip H.Coombs berpendapat bahwa pendidikan luar sekolah adalah
semua kegiatan pendidikan yang terorganisasi, sistematis dan dilaksanakan di luar
sistem pendidikan formal, yang menghasilkan tipe-tipe belajar yang dikehendaki oleh
kelompok orang dewasa maupun anak-anak.
Russel Kleis, dalam bukunya Non-formal Education mengemukakan bahwa
pendidikan luar sekolah adalah usaha pendidikan yang dilakukan secara sengaja dan
sistematis. Biasanya pendidikan ini berbeda dengan pendidikan tradisional terutama
yang menyangkut waktu, materi, isi dan media. Pendidikan luar sekolah dilaksanakan
dengan sukarela dan selektif sesuai dengan keinginan serta kebutuhan peserta didik
yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh.
Axinn mengemukakan bahwa pendidikan luar sekolah merupakan kegiatan
yang ditandai dengan kesengajaan dari kedua belah pihak, yaitu pendidik yang
sengaja membelajarkan peserta didik, dan peserta didik yang sengaja untuk belajar.
Suzanna Kindervatter mengemukakan definisi pendidikan luar sekolah sebagai
berikut: pendidikan luar sekolah sebagai suatu metoda penerapan kebutuhan, minat
orang dewasa dan pemuda putus sekolah di negara berkembang, membantu dan
memotivasi mereka untuk mendapatkan keterampilan guna menyesuaikan pola
tingkah laku dan aktivitas yang akan meningkatkan produktivitas dan meningkatkan
standar hidup. Suzanna Kindervatter mengusulkan pendidikan pendidikan luar
sekolah sebagai "empowering process”. Empowering process adalah pendekatan
yang bertujuan untuk memberikan pengertian dan kesadaran kepada seseorang atau
kelompok guna memahami dan mengontrol kekuatan sosial ekonomi dan politik
sehingga dapat memperbaiki kedudukannya dalam masyarakat. Program
pembelajaran dalam empowering process dirancang untuk memberi kesempatan
kepada para anak putus sekolah, dengan menganalisis keadaan kehidupan mereka
guna, mengembangkan keterampilan yang dikehendaki agar dapat merubah keadaan
kehidupan mereka.

Minggu, 28 Desember 2014

power point ti

power point


Kali saya akan berbagi alah satu power point pembelajaran teknologi informasi . Yang saya dapat di bangku perkuliahan .Power point sangat lah berguna bagi kita untuk mempresentasikan sebuah gagasan atau ide supaya menarik bagi yang mendengarkannya. Kitapun tidak susah - susah membawa buku yang begitu banyak.









Download MPIPLS

psh pls

PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
PENDIDIKAN UNTUK MENGHADAPI PERUBAHAN
            Perhatian para pendidik semakin meningkat terhadap perubahan yang terjadi dengan cepat hampir dalam segenap segi kehidupan. Misalnya dalam bidang sosial budaya telah terjadi perubahan seperti pertumbuhan penduduk yang besar, meningkatnya mobilitas sosial dan meluasnya aktivitas politik dan budaya. Salah satu efek dari perubahan yang telah dikemukakan, meningkatnya tuntutan akan persamaan pendidikan dalam masyarakat dan juga bangsa yang berbeda pengkembangan kekayaan dan  teknologinya. Tidak hanya itu, pada bidang komunikasi, sains, dan teknologi. Misalnya pada bidang teknologi dan komunikasi seiring berkembangnya teknologi komunikasi pun semakin lancar dan pada bidang sains adanya hasil penelitian-penelitian yang dapat mempermudah kehidupan masyarakat. Pada akhirnya terjadi perubahan ekstensif dalam persediaan dan penawaran barang yang diperlukan konsumen serta organisasi alat-alat produksi.
            Disebabkan oleh fenomena diatas, murid-murid sekolah dipersiapkan untuk memasuki masyarakat dan dunia kerja yang mungkin tidak ada ketika mereka dewasa nanti. Dengan kata lain murid-murid mempelajari sesuatu yang tidak diperlukan ketika mereka dewasa kelak. Peristiwa seperti itu tidak hanya terjadi di negara yang sudah maju, tetapi juga terjadi di negara yang sedang berkembang.
            Pembaharuan-pembaharuan pendidikan mulai menekankan perlunya perumusan tujuan pendidikan baru, untuk pendidikan untuk dunia yang sedang berubah. Tujuan pendidikan baru merupakan implikasi dari sifat-sifat kejiwaan dan juga berimplikasi terhadap bermacam aspek kehidupan manusia itu sendiri. Walaupun demikian, aspek kejiwaan menjadi masalah utama yang disoroti dalam pembahasan ini. Tujuan pendidikan baru, pendidikan untuk menghadapi perubahan. menyatakan bahwa ketrampilan, nilai dan sikap yang diperoleh dan dipergunakan pada masa kanak-kanak tidak akan sesuai dengan kehidupan ketika mereka dewasa. Keterampilan, nilai dan sikap yang tidak sesuai itu, seperti pengetahuan, hubungan antar perorangan, perkembangan diri, kepribadian dan sebagainya.
            Peningkatan kebutuhan mengakibatkan “Inovasi pengetahuan” (Dumadezier, 1972), sedangkan pengetahuan sekarang akan berfungsi sebagai basis kelangsungan proses belajar lanjut dan belajar kembali. Proses belajar terus menerus tidak hanya terbatas pada membaca, menulis, dan berhitung di sekolah tradisional, bahkan diperluas ke seluruh aspek kejiwaan. Anak-anak perlu memperoleh pengetahuan tidak hanya mengenai fakta-fakta yang ada dalam masyarakat mereka, tetapi juga diri mereka dan orang lain serta kebudayaan mereka dan kebudayaan orang lain. Dalam lingkungan tradisional mereka perlu mengetahui bagaimana memperoleh pengetahuan pada waktu yang diinginkan. Bahkan yang lebih penting lagi adalah bagaimana mempergunakannya. Mereka harus dapat mengorganisir, menyimpan dan mengingat informasi, mempergunakan logika, perhitungan dan berkomunikasi dengan orang lain.

Teori pendidikan sekarang berubah pendekatannya dari mementingkan keterampilan kognitif ke arah membantu perkembangan dalam dan antar perorangan. Ini berarti peningkatan tuntutan, bahwa pendidikan secara sadar sepenuhnya membantu melicinkan pertumbuhan diri dan meningkatkan usaha aktualisasi diri. Pendidikan harus mengembangkan individu sebagai bagian proses menuju kematangan. Dan pendidikan secara kejiwaan mempersiapkan individu untuk menanggulangi ketegangan pribadi sebagai akibat perubahan kehidupan yang cepat, pekerjaan, sosial dan budaya. umpamanya dahulu banyak anak yang masuk ke lapangan pekerjaan bidang otomotif untuk itu sekarang banyak sekolah khusus untuk jurusan otomotif yaitu pada SMK atau STM yang dalap memberikan ketrampilan yang lebih memadai untuk memperoleh pengetahuan dan kemudahan dalam pekerjaan mereka.
Macam-macam perubahan yang telah didiskusikan mempunyai implikasi lebih jauh terhadap produksi dan distribusi barang-barang serta prestasi kemauan kerja. Perubahan yang meluas dapat diprediksikan akan melahirkan masa depan yang tidak stabil baik personal maupun emosional. Jika orang-orang tidak dapat menanggulangi perubahan, mereka akan tenggelam, kelewat atau terasing dari kepribadiannya. Dalam keadaan seperti itu, pendidikan akan berperan membantu pertumbuhan kepribadian yang kuat untuk menanggulangi perubahan dan menolong orang-orang berhubungan dengan sesamanya. Dalam bidang kognitif pendidikan harus menolong pelajar untuk mengembangkan konsep baru tentang pertumbuhan diri, mandiri, dan untuk menerapkan konsep baru agar mereka mengerti dirinya sendiri, berhubungan dengan orang lain, bekerja, dan bersenang-senang.

KEBUTUHAN PENDIDIKAN ORANG DEWASA.
Dari sisi lain , system pendidikan masa kini mendapat kecaman tidak mampuanya melayani sebagian besar orang dewasa .(karena orang dewasa suka pembelajaran praktis dan berpusat pada masalah)(suber:www.google.com) Dinytakan  bahwa anak-anak akan mengalami  perubahan di masa depan  ketika mereka dewasa, sedangkan  orang dewasa tidak  memiliki kesempatan seperti anak-anak. Anak-anak dilibatkan dengan perubahan penting yang terjadi pada masa kini. Justru itu, perlu peningkatan  penekanan bahwa pendidikan bertugas mempersiapkan anak-anak masa kini untuk menghadapi masa depan,juga system pendidikan hendaknya diorganisir agar dapat menemukan kebutuhan masa kini yang cocok dengan kebutuhan  ketika mereka dewasa . Asumsi bahwa 10,12,atau 15 tahun masa persekolahan formal  dapat mempersiapkan orng dewasa untuk menanggulangi seluruh ospek  kehidupan telah hilang dalam pemiikiran pendidikan sekarang.
Beberapa tanda meunjukkan peningkatan perhatian   pendidikan orang dewasa di Amerika  Utara dan pengembangan prinsip-prinsip keorganisasian seperti “ recurrent education .” Dan akhir-akhir ini , pembuat undang-undang di Perancis  menetapkan  sejumlah substansi pendidikan lanjutan untuk pegawai-pegawai mereka . Jerman telah menetapkan periode  Bildungsurlaub (cuti karena pendidikan , sedangkan persatuan pengusaha  dan pekerja Australia  menyetujui untuk membayar upah cuti bagi pekerja  yang mengikuti kursus-kursus pendidikan. Sukses Uneversitas terbuka di Inggris dan pengembangan beberapa lembaga yang sama di beberapa negara seperti Canada dan lain lain merupakan contoh pengembangan pendidikan orang dewasa. Akhirnya, sejalan dengan perubahan dunia, dirasakan kebetuhan untuk memperlengkapi orang-orang dengan pengalaman pendidikan formal diluar usia sekolah konvensional.
Orang dewasa suka pembelajaran praktis dan berpusat pada masalah.Oleh karena itu digunakan pembelajaran kolaboratif serta kooperatif  dan pemecahan masalah secara otentik. Berikan contoh-contoh nyata ,cerita dan overview untuk mengaitkan teori dengan praktek. Bantu mereka untuk menerapkan informasi baru.Antisipasi masalah yang mungkin akan dihadapi dalam mengaplikasikan informasi baru itu , berikan saran-saran dan pengalaman anda.
Orang dewasa suka pembelajaran yang mendukung harga diri mereka.Mulailah dengan kegiatan kerja dalam kelompok kecil dengan resiko kegagalan yang rendah. Bantulah mereka untuk berkembang menjadi lebih efektif dengan latihan terarah dan pembiasaan. Rencanakan untuk membangun sukses individual secara bertahap. Dimulai dengan tugas yang ringan menuju yang lebih berat.
Orang Dewasa suka pembelajaran suka pembelajaran yang mengintegrasikan informasi baru dengan pengalaman mereka. (alasan ditambahnya kalimat ini agar pembaca tambah mengetahui pembelajaran apa saja yang dapat mendukung harga dirinya serta kegagalan serta resiko-resikonya)

PENDIDIKAN DAN MASA KANAK-KANAK
Untaian argumentasi ketiga,berkenaan dengan pentingnya pengalaman padatahun-tahun pertama kehidupan dalam rangka perkembangan masa depan.Meskipun dalam beberapa kasus tuntunan lebih banyak di dasarkan pada issu ekonomi atau polititk dari pada analisis kejiwaan di masa anak-anak awal beberapa kelompok dinegara maju pada akhir-akhir ini mendorong pemerintah untuk menyelenggarakan pedidikan formal bagi anak-anak awal.Ini sering kali di sebut dengan istilah prasekolah untuk mempelihara anak-anak yang ibunya sedang bekerja.
           Di beberapa  masyarakat,contoh Canda,pendidikan pada masa kanak-kanak awal;atau pra sekolah di usulkan sebagai bagian usaha membantu penggabungan anak-anak darikebudayaan minoritas( seperti India, Canada)kedalam kebudayaan yang dominan.Perhatian juga di berikan pada lingkaran pendidikan yang memasukan proyek pendidikan awal seperti program “Hoadstart”di  Amerika Serikat,dengan tujuan untuk menyembuhkan kemunduran kognitif yang di akibatkan oleh stimulasi terdahulu yang tidak memadai.Dengan demikian,pentingnya pengalaman pada tahun-tahun pertama kehidupan telah di akui secara luas sekarang ini.Salah satu hasilnya adalah perlunya struktur  formal  pengalaman belajar anak-anak prasekolah.Untuk itu umpamanya sistem persekolahan di perluas sehingga dapat menampung anak yang berumur lebih rendah dari umur yang telah di tetapkansekarang.Kemudian juga dirasakan perlunya perluasan konsep perluasan itu sendiri.
             Dalam hal ini,pemrintah harus bisa menyediakan fasilitas-fasilitas yang di perlukan dalam sistem persekolahan seperti:gedung atau ruangan persekolahan,buku-bacaan untuk anak-anak  yang berumur lebih rendah atau yang di sebut  PENDIDIKAN ANAK USIA DINI(PAUD).Maka dari   itu pemerintah seharusnya mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi maupun golongan masing-masing. Karena ini bisa mempercepat adanya pembangunan Pendidikan begitu sebaliknya kalau pemerintah lebih mengutamakan kepentingan pribadi maupun golongan maka akan memperlambat jalanya pembangunan pendidikan.akibat  dari  lambatny pembangunan   pendidikan tersebut maka banyak anak- anak di usia rendah yang tidak bisa mendapat pendidikan dari kegiatan persekolahan tersebut sehingga mereka hanya mendapatkan pendidikan in formal saja.

PERSAMAAN PENDIDIKAN YANG SEBENARNYA
Serangan yang meluas secara terpisah-pisah terhadap organisasi pendidikan konvensional disebabkan oleh perubahan konsep persamaan pendidikan yang telah banyak dikemukakan dalam tulisan-tulisan sekarang ini. Persamaan pada mulanya dipandang sebagai usaha memperlengkapi fasilitas fisik yang sama untuk seluruh anak-anak sekolah tanpa memandang status sosial ekonomi, ras dan faktor sejenisnya. Laporan akhir-akhir ini di Amerika Serikat menyatakan bahwa persamaan dalam bidang ini hampir seluruhnya mendekati kenyataan yang dulunya hanya sekedar pikiran. Meskipun demikian, masih terdapat ketidaksamaan waktu yang digunakan di sekolah,penguasaan ketrampilan yang diberikan oleh sekolah, angaka pemasukan ke dalam lapangan kerja dan sebagainya. Konsekuensinya, semakin beralasan untuk melakukan perubahan pendidikan lebih jauh daripada yang sudah dilakukan sekarang ini.
            Persamaan pendidikan sebenarnya akan terwujud apabila seluruh warga masyarakat mendapat keuntungan yang sama dari  fasilitas pendidikan yang ada. Meskipun kenyataannya, karena kurangnya minat pada waktu kanak-kanak, sehingga mereka tidak memanfaatkan kesempatan pendidikan yang tersedia, pendidikan selama usia sekolah konvensional. Dengan demikian, semakin kuat dorongan untuk mengembangkan sistem pendidikan yang dapat mewujudkan persamaan hasil akhir, bukan hanya sekedar persamaan jalan secara teoritis untuk memperoleh fasilitas. Persamaan hasil akhir yang dicapai oleh bermacam strata sosial dalam masyarakat tertentu dan diantara masyarakat yang berbeda kekayaan dan perkembangan teknologinya.
PERANAN ILMU JIWA
            Dengan danya komitmen UNESCO terhadap prinsip pendidikan seumur hidup berarti badan pendidikan internasional telah mengadopsi pendidikan seumur hidup. Konsekuensinya, tepat sekali konsep pendidikan seumur hidup di teliti dengan cara yang terorganisir dan sistematik. Sebagai teori organisasi pendidikan, pendidikan seumur hidup mempunyai basis kejiwaan dan juga memiliki basis disiplin ilmu lainya disamping ilmu jiwa, segingga penerimaan atau penolakan akan tergantung dengan basis-basis itu. Analisis kejiwaan terdiri dari 5 aspek pokok, sebagai berikut:
1.Penyajian unsur-unsur pokok kejiwaan yang menggambarkan pendidikan seumur hidup.
2. Statemen alas an-alasan pokok tentang pendidikan seumur hidup dikemukakan dengan menggunakan istilah kejiwaan.
3. Review bukti validitas argumenttasi yang telah dikemukakan.
4. Analisis implikasi pengetahuan tentang kejiwaan terhadap kurikulum sekolah jika di organisir dalam kerangka pendidikan seumur hidup.
5. Pengkajian terhadap kecaman yang dialamatkan pada pendidikan seumur hidup akhir-akhir ini, dan spesifikasi beberapa implikasi terhadap pengkajian lanjut pendidikan seumur hidup.
(dalam pembuatan bahan-bahan kejiwan  juga harus didasari untuk merubahkebutuhan dan kepentingan pegawai karena sudah termasuk dan merupakan tujuan sosial serta mencari dan mengembangkan cara serta langkah yang dapat mewujudkan maksud dan tujuan kejiwaan)(alasan ditambahnya kalimat ini agar dalam pembuatan tulisan tidak meninggalkan unsur-unsur dan tujuan –tujuan yang akan di capai )
            Review bahan kejiwaan dikerjakan dengan sangat selektif. Untuk itu, itu tulisan ini bertumpu pada pendapat aspek mana yang paling berkaitan dan dapat memberikan informasi, dan hasilnya banyak bahan yang menurut orang lain seharusnya baik dimasukan, tetapi dalan tulisan in ditinggalkan. Dan juga sebagai tambahan, basis istimewa dan efek karena kenal atau kurang kenal dengan karya beragam penulis.dua prinsip dengan longgar diterapkan dalam pemilihan bahan. Pertama, meskipun usaha dengan sengaja dibuat untuk melihat kembali teori dan research masa silam dengan maksud untuk dipertentangkan dengan yang terbaru( serta untuk tidak melakukan kesalahan yang sama pada karya ilmiah terdahulu)(sumber:www.google.com) tetapi kenyataannya terkonsentrasi pada karya-karya penulis sekrang. Kedua aturan informal bahwa titik berat penekanan atas dasar konklusi dan generalisasi yang diambil dari penelitian empiris, paling tidak yang sesuai dengan metode “scientific”. Pendekatan ini tidak secara ketat diikuti, dan semata-mata sebagai guideline kasar untuk memilih bahan. Akibat nya, hanya beberapa penulis saja yang dikutip untuk menunjang pembahasan ini, sperti Freud dan titik berat penekanan berdasarkan konklusi selain Freud seperti Hunt.

            Pembahasan juga terkosentrasi berdasarkan hasil yang ditulis dalam bahasa Inggris,Perancis dan Jerman. Karena banyak hambatan bahasa, tidak diragukan lagi banyak research yang sesuai dengan pembahasan ini ditulis dalam bahasa selain bahasa Perancis,Inggris dan Jerman terpaksa diabaikan.Dengan keadaan seperti yang telah dikemukakan, penting untuk dinyatakan bahwa isi penyajian terbatas hanya pada sebagian saja dari ilmu pengetahuan dalam bidang ini.
Sesuatu yang diabaikan dalam pembahasan ini karena keterbatasan kemampuan penulis, bukan oleh karena kurang nya minat untuk memasukan nya.

konsep dasar pls

BERBAGAI KONSEP/ HAKIKAT/ DEFINISI PLS (PNF)

Pendapat Ahli


Menurut Philips H. Combs: bahwa pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan di luar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar.

Menurut UNESCO (1972): pendidikan luar sekolah mempunyai ketaatan, keseragaman yang rendah, program bervariasi, tujuan tidak seragam, peserta didik yang tidak ketat, persyaratan yang longgar dan teknik-teknik dagnosis, rencana dan evaluasi yang berbeda dibanding pendidikan sekolah. Pendidikan sekolah mempunyai bentuk, tujuan dan isi program yang seragam di tiap tingkatan, peserta didik yang ketat.

Menurut Komunikasi Pembaharuan Nasiona Pendidikan: PLS adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidup, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efisisen dan efektif dalam lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya.

Menurut UUD 1945, Undang-undang RI Nomor 2 Tahun 1989 dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 73 Tahun 1991: PLS adalah kumpulan individu yang menghimpun dari dalam kelompok dan memiliki ikatan satu sama lain untuk mengikuti program pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah dalam rangka mencapai tujuan belajar.

Konsep menurut Kaplan (1964): PLS adalah sebuah bentuk citra mental yang digunakan sebagai alat memadukan pengamatan dan pengalaman yang memiliki kesamaan. Konsep pendidikan luar sekolah  muncul atas dasar hasil observasi yang hasilnya diketahui persamaan dan perbedaan ciri-ciri pendidikan luar sekolah dan pendidikan sekolah. Pendidikan luar sekolah juga memiliki sistem, prinsip, paradigma yang relatif berbeda dengan pendidikan sekolah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: PLS adalah segenap bentuk pelatihan yang diberikan secara terorganisasi di luar pendidikan formal. Misalnya, kursus keterampilan.

Menurut Russel Kleis: pendidikan luar sekolah adalah usaha pendidikan yang dilakukan secara sengaja dan sistematis. Biasanya pendidikan ini berbeda dengan pendidikan tradisional terutama yang menyangkut waktu, materi, isi dan media. Pendidikan luar sekolah dilaksanakan dengan sukarela dan selektif sesuai dengan keinginan serta kebutuhan peserta didik yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh.

Menurut Axinn: mengemukakan bahwa pendidikan luar sekolah merupakan kegiatan yang ditandai dengan kesengajaan dari kedua belah pihak, yaitu pendidik yang sengaja membelajarkan peserta didik, dan peserta didik yang sengaja untuk belajar.

Menurut Suzanna Kindervatter: mengemukakan definisi pendidikan luar sekolah sebagai berikut: pendidikan luar sekolah sebagai suatu metoda penerapan kebutuhan, minat orang dewasa dan pemuda putus sekolah di negara berkembang, membantu dan memotivasi mereka untuk mendapatkan keterampilan guna menyesuaikan pola tingkah laku dan aktivitas yang akan meningkatkan produktivitas dan meningkatkan standar hidup.
Suzanna Kindervatter mengusulkan pendidikan pendidikan luar sekolah sebagai "empowering process”. Empowering process adalah pendekatan yang bertujuan untuk memberikan pengertian dan kesadaran kepada seseorang atau kelompok guna memahami dan mengontrol kekuatan sosial ekonomi dan politik sehingga dapat memperbaiki kedudukannya dalam masyarakat. Program pembelajaran dalam empowering process dirancang untuk memberi kesempatan kepada para anak putus sekolah, dengan menganalisis keadaan kehidupan mereka guna, mengembangkan keterampilan yang dikehendaki agar dapat merubah keadaan kehidupan mereka.

Sabtu, 27 Desember 2014

PENGERTIAN PLS

BERBAGAI KONSEP/ HAKIKAT/ DEFINISI PLS (PNF)

Pendapat Ahli


Menurut Philips H. Combs: bahwa pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan di luar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar.

Menurut UNESCO (1972): pendidikan luar sekolah mempunyai ketaatan, keseragaman yang rendah, program bervariasi, tujuan tidak seragam, peserta didik yang tidak ketat, persyaratan yang longgar dan teknik-teknik dagnosis, rencana dan evaluasi yang berbeda dibanding pendidikan sekolah. Pendidikan sekolah mempunyai bentuk, tujuan dan isi program yang seragam di tiap tingkatan, peserta didik yang ketat.

Menurut Komunikasi Pembaharuan Nasiona Pendidikan: PLS adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidup, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efisisen dan efektif dalam lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya.

Menurut UUD 1945, Undang-undang RI Nomor 2 Tahun 1989 dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 73 Tahun 1991: PLS adalah kumpulan individu yang menghimpun dari dalam kelompok dan memiliki ikatan satu sama lain untuk mengikuti program pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah dalam rangka mencapai tujuan belajar.

Konsep menurut Kaplan (1964): PLS adalah sebuah bentuk citra mental yang digunakan sebagai alat memadukan pengamatan dan pengalaman yang memiliki kesamaan. Konsep pendidikan luar sekolah  muncul atas dasar hasil observasi yang hasilnya diketahui persamaan dan perbedaan ciri-ciri pendidikan luar sekolah dan pendidikan sekolah. Pendidikan luar sekolah juga memiliki sistem, prinsip, paradigma yang relatif berbeda dengan pendidikan sekolah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: PLS adalah segenap bentuk pelatihan yang diberikan secara terorganisasi di luar pendidikan formal. Misalnya, kursus keterampilan.

Menurut Russel Kleis: pendidikan luar sekolah adalah usaha pendidikan yang dilakukan secara sengaja dan sistematis. Biasanya pendidikan ini berbeda dengan pendidikan tradisional terutama yang menyangkut waktu, materi, isi dan media. Pendidikan luar sekolah dilaksanakan dengan sukarela dan selektif sesuai dengan keinginan serta kebutuhan peserta didik yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh.

Menurut Axinn: mengemukakan bahwa pendidikan luar sekolah merupakan kegiatan yang ditandai dengan kesengajaan dari kedua belah pihak, yaitu pendidik yang sengaja membelajarkan peserta didik, dan peserta didik yang sengaja untuk belajar.

Menurut Suzanna Kindervatter: mengemukakan definisi pendidikan luar sekolah sebagai berikut: pendidikan luar sekolah sebagai suatu metoda penerapan kebutuhan, minat orang dewasa dan pemuda putus sekolah di negara berkembang, membantu dan memotivasi mereka untuk mendapatkan keterampilan guna menyesuaikan pola tingkah laku dan aktivitas yang akan meningkatkan produktivitas dan meningkatkan standar hidup.
Suzanna Kindervatter mengusulkan pendidikan pendidikan luar sekolah sebagai "empowering process”. Empowering process adalah pendekatan yang bertujuan untuk memberikan pengertian dan kesadaran kepada seseorang atau kelompok guna memahami dan mengontrol kekuatan sosial ekonomi dan politik sehingga dapat memperbaiki kedudukannya dalam masyarakat. Program pembelajaran dalam empowering process dirancang untuk memberi kesempatan kepada para anak putus sekolah, dengan menganalisis keadaan kehidupan mereka guna, mengembangkan keterampilan yang dikehendaki agar dapat merubah keadaan kehidupan mereka.

Menurut Adikusumo (1986: 57) dalam bukunya Pendidikan Kemasyarakatan mengemukakan pengertian pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah, dimana seseorang memperoleh informasi-informasi pengetahuan, latihan ataupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya dengan tujuan mengembangkan tingkat kerterampilan, sikap-sikap peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga bahkan masyarakat dan negaranya.

Menurut Sudjana:  mengemukakan pengertian pendidikan luar sekolah sebagai berikut: "Pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan belajar membelajarkan, diselenggara-kan luar jalur pendidikan sekolah dengan tujuan untuk membantu peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi diri berupa pengetahuan, sikap, keterampilan, dan aspirasi yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, lembaga, bangsa, dan negara.

Menurut common sense: PLS adalah segala kegiatan pendidikan yang berlangsung di luar sistem persekolahan dalam rangka meningkatkan potensi warga belajar yang meliputi pelatihan-pelatihan, keterampilan, pengembangan masyarakat sehingga dapat diaplikasikan baik di lingkungan keluarga maupun bermasyarakat.


Realitas Lapangan tentang PLS
Pendidikan yang Sesuai dengan Kebutuhan Masyarakat
Kita menyadari bahwa SDM kita masih rendah, dan tentunya kita masih punya satu sikap yakni optimis untuk dapat mengangkat SDM tersebut. Salah satu pilar yang tidak mungkin terabaikan adalah melalui pendidikan nonformal atau lebih dikenal dengan pendidikan luar sekolah (PLS).
Seperti kita ketahui, bahwa rendahnya SDM kita tidak terlepas dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, terutama pada usia sekolah. Rendahnya kualitas SDM tersebut disebabkan oleh banyak hal, misalnya ketidakmampuan anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sebagai akibat dari kemiskinan yang melilit kehidupan keluarga, atau bisa saja disebabkan oleh oleh angka putus sekolah, hal yang sama disebabkan oleh faktor ekonomi.
Pendidikan dilakukan tidak lain hanyalah untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. SDM yang berkualitas hanya terbentuk apabila terdapat proses pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas ini selanjutnya hanya bertumpu pada lembaga pendidikan yang tidak membekali pada kemampuan kognitif saja, akan tetapi pada kemampuan afektif dan psikomotorik (Isjoni, 2008:3).

Firdaus M. Yunus (2005:8) juga mengatakan bahwa pendidikan bagi manusia adalah proses seumur hidup dan terwujudkan atas dasar tujuan yang luas. Dewasa ini keberadaan pendidikan lazimnya dipandang sebagai sesuatu kegiatan yang bersifat partisipan untuk menyongsong perkembangan-perkembangan yang akan terjadi pada masa mendatang. Postur antisipasi ini ditentukan oleh persepsi masyarakat pendidikan terhadap kecenderungan yang ada yang ditarik secara inferensial dari fakta-fakta dari dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Pendidikan luar sekolah atau sekarang disebut pendidikan nonformal merupakan jalur pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan. Satuan pendidikan non formal meliputi kursus atau lembaga pendidikan keterampilan, kelompok beajar, atau satuan pendidikan yang sejenis.
Pendidikan nonformal memberikan pelayanan pendidikan kepada warga masyarakat diluar jalur sekolah atau formal. Pendidikan jalur ini meliputi PAUD, Pendidikan Kesetaraan, pendidikan buta aksara, pendidikan orang dewasa, pendidikan keluarga, pendidikan masyarakat dan pendidikan lain yang di tentukan untuk pendidikan mengembangkan kemampuan akademik dan kejuruan peserta didik sesuai dengan kebutuhan.

Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc. Ed (2002:127), mengatakan bahwa penguasaan yang mendalam atas suatu ilmu dan suatu keterampilan sehingga bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang di hadapi dalam kehidupan anak didik jauh lebih berguna dan lebih baik ketimbang penguasaan banyak ilmu dan keterampilan secara sepintas lalu tidak bisa dijadikan alat untuk memecahkan masalah kehidupan anak didik, baik dalam kehidupan social maupun kehidupan akademiknya.
Pendidikan nonformal berasaskan pendidikan sepanjang hayat atau livelong education. Pada pelaksanaan pendidikan nonformal selalu melibatkan dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Sehingga masyarakat merasa memilikinya.


Sistem Pendidikan yang Sesuai bagi Masyarakat

Pendidikan nonformal merupakan pendidikan berbasis masyarakat, pendidikan berbasis masyarakat artinya pendidikan tersebut bersumber dari kebutuhan masyarakat dan untuk masyarakat itu sendiri, seperti yang di sebutkan oleh Paulo Freire yaitu pendidikan berbasis realitas sosial. Praktik pendidikan harus dibuat sedemikian rupa agar berkolerasi dengan kebutuhan mendasar masyarakat, yang pada akhirnya pola kebijakan pendidikan selaras dengan pemenuhan keberhasilan program otonomi daerah.
Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Pendidikan nonfermsl menjadi lebih efektif karena menekankan pada skill yang di butuhkan oleh masyarakat itu sendiri. Pendidikan nonformal memberikan peluang pendidikan kepada mereka warga masyarakat yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan formal. Selain biaya yang relatif mahal, sistem pendidikannya yang terlalu global dan kurang tepat sasaran pada kebutuhan masyarakat, pendidikan nonformal dipandang lebih murah dan hemat, dengan adanya kursus atau lembaga pelatihan kerja yang hanya membutuhkan waktu relatif singkat untuk menyelesaikannya.

Michelle Kuenzi (2006) menyatakan, Non Formal Education is genereally seen as more cost. Effective than format education because people move through courses and programmes at a fas rate then students in the formal system and, in turn, are able to utilise practical knowledge and skills immediately.
Tidak hanya itu pendidikan nonformal juga berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, penanggulangan pengangguran juga peningkatan kualitas sumber daya manusia. Bagaimana tidak? Seorang pengangguran mengikuti lembaga pelatihan kerja untuk menambah kecakapan hidup, sehingga seseorang itu dapat bekerja sesuai keahlian yang telah ia miliki sehingga ia dapat mengentaskan diri dari masalah ekonomi. Para petani dan peternak yang notabene tidak berpendidikan diberikan penyuluhan tentang pertanian dan peternakan melalui pendidikan nonformal sehingga dapat memperoleh hasil panen melimpah dan berkualitas. Anak putus sekolah, tidak bisa melanjutkan ke pendidikan formal dapat mengikuti program keseteraan yaitu kelompok belajar atau disingkat KEJAR PAKET A setara SD, KEJAR PAKET B setara SMP, KEJAR PAKET C setara SMA.
Mulai dari balita dengan melalui PAUD, pemberdayaan pemuda, pemberdayaan perempuan, keaksaraan, keseteraan, merupakan bidang garapan dari pendidikan nonformal. Pendidikan nonformal tidak hanya sekedar sebagai suatu alternatif pendidikan, tetapi merupakan pemegang peranan penting dalam rangka membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan tersebut merupakan pendidikan paling efektif yang dibutuhkan dalam menghadapai dunia ini karena sistem pendidikan nonformal lebih tepat sasaran. Sehingga semua kalangan masyarakat dapat mengenyam pendidikan.

Pengertian Antropologi

PENGERTIAN ANTROPOLOGI

David Hunter 
Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia
Koentjaraningrat 
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisikmasyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan
William A. Havilland 
Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
Kesimpulannya adalah :

sebuah ilmu yang mempelajari tentang segala aspek dari manusia, yang terdiri dari aspek fisik dan nonfisik berupa warna kulit, bentuk rambut, bentuk mata, kebudayaan, aspek politik, dan berbagai pengetahuan tentang corak kehidupan lainnya yang bermanfaat.

contoh hasil observasi LEMBAGA PENDIDIKAN


HASIL OBSERVASI
1)    Nama khursus :       PRIMAGAMA MAJAPAHIT
                                    Ruko Mutiara Gama Kav. 20 JL. Gajah Raya, Majapahit –                                                 Semarang.
2)    Jumlah siswa :         170 siswa
                                    Terdiri dari Siswa SD         : 70 siswa
                                                         Siswa SMP       : 40 siswa
                                                         Siswa SMA      : 60 siswa
3)    Jumlah KBM :          Senin : 14.00 – 18.00
                                    Selasa : 14.00 – 18.00
                                    Rabu  : 14.00 – 18.00
                                    Kamis : 14.00 – 18.00
                                    Jumat : 14.00 – 18.00
                                    Sabtu : 14.00 – 18.00
4)    Jumlah tutor            : 30 orang
                                      Terdiri dari  lulusan:        Universitas Negeri Semarang
                                                                                    Universitas Diponegoro
                                                                                    IKIP ( PGRI )
5)    Kurikulum yang di gunakan saat pembelajaran: kurikulum 2013
6)    Ketua lembaga :      Ms. Sofiah, S.s